public inbox for gwml@vger.gnuweeb.org
 help / color / mirror / Atom feed
From: James Ed Randson <jimedrand@disroot.org>
To: jimedrand@aol.com
Cc: Gwml <gwml@vger.gnuweeb.org>
Subject: Naskah debat mengenai cancel culture di lingkup jaringan Fediverse (revised-text)
Date: Tue, 18 Nov 2025 13:22:38 +0100	[thread overview]
Message-ID: <3671b1edf0ec1f79fef4640a1049ddb8@disroot.org> (raw)

[-- Attachment #1: Type: text/plain, Size: 23755 bytes --]

NASKAH DEBAT AKADEMIK: CANCEL CULTURE DALAM KONTEKS JARINGAN FEDIVERSE

INFORMASI DEBAT Mosi: Cancel Culture Diperlukan sebagai Mekanisme 
Akuntabilitas Sosial dalam Jaringan Terdesentralisasi Format: Debat 
Parlementer Akademik Konteks: Jaringan Fediverse (ActivityPub & AT 
Protocol) dan Perbandingan dengan Platform Terpusat

================================================================================

POSISI PRO (MENDUKUNG): CANCEL CULTURE SEBAGAI MEKANISME AKUNTABILITAS 
SOSIAL YANG DIPERLUKAN

PEMBUKAAN

Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya 
hormati,

Cancel culture, atau budaya pembatalan, merupakan fenomena sosiologis 
kontemporer yang mencerminkan demokratisasi akuntabilitas publik di era 
digital. Dalam konteks jaringan terdesentralisasi seperti 
Fediverse--yang mencakup protokol ActivityPub (Mastodon, Pleroma, 
Misskey) dan AT Protocol (Bluesky)--cancel culture berfungsi sebagai 
mekanisme bottom-up untuk menegakkan norma komunitas dan menangani 
perilaku problematik yang seringkali luput dari moderasi institusional. 
Berbeda dengan platform terpusat seperti Twitter atau Facebook yang 
mengandalkan moderasi korporat, Fediverse membutuhkan mekanisme 
akuntabilitas berbasis komunitas yang lebih kuat.

ARGUMENTASI PRIMER

  	* Desentralisasi Memerlukan Akuntabilitas Kolektif sebagai Pengganti 
Moderasi Korporat

Platform terpusat seperti Facebook dan Twitter memiliki tim moderasi 
yang didanai korporasi dengan kebijakan seragam. Namun, sebagaimana 
dikemukakan dalam diskusi Reddit tentang Fediverse, struktur 
terdesentralisasi Fediverse beroperasi melalui instance-instance 
independen dengan keterbatasan sumber daya moderasi. Ketika mekanisme 
moderasi formal gagal--seperti kasus administrator instance yang lambat 
merespons pelecehan atau hate speech--cancel culture berperan sebagai 
sistem check-and-balance alternatif yang organik dan berbasis komunitas.

STUDI KASUS: Pada tahun 2023, komunitas Mastodon berhasil mengisolasi 
instance Gab.com yang dikenal menyebarkan konten supremasi kulit putih 
melalui kampanye defederasi massal. Tindakan kolektif ini membuktikan 
bahwa cancel culture dapat melindungi ruang digital dari aktor-aktor 
berbahaya tanpa bergantung pada otoritas sentral atau moderasi korporat. 
Sebaliknya, platform terpusat seperti Twitter (sebelum akuisisi Musk) 
sering mengalami inkonsistensi dalam menegakkan kebijakan terhadap 
konten ekstremis karena pertimbangan komersial dan politik.

PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat, pengguna bergantung 
sepenuhnya pada kebijakan moderasi perusahaan yang sering tidak 
transparan dan dipengaruhi oleh kepentingan komersial. Menurut analisis 
dari Medium tentang perbandingan Fediverse dan media sosial terpusat, 
pengguna platform terpusat tidak memiliki mekanisme untuk menuntut 
akuntabilitas ketika moderasi gagal. Cancel culture dalam Fediverse 
memberikan kekuatan kepada komunitas untuk melindungi diri sendiri 
ketika struktur formal tidak memadai.

  	* Amplifikasi Suara Minoritas dan Demokratisasi Keamanan Digital

Dalam ekosistem terpusat, algoritma yang dioptimalkan untuk engagement 
sering memprioritaskan konten kontroversial dan sensasional, mengabaikan 
kebutuhan keselamatan komunitas marjinal. Struktur Fediverse yang 
terdesentralisasi memberikan platform bagi komunitas marjinal yang 
sering diabaikan. Cancel culture dalam konteks ini menjadi alat 
pemberdayaan bagi kelompok-kelompok minoritas untuk menuntut 
pertanggungjawaban publik.

STUDI KASUS: Kampanye #FediBlock di Mastodon memungkinkan pengguna dari 
komunitas LGBTQ+, BIPOC, dan kelompok rentan lainnya untuk 
mengidentifikasi dan memblokir instance atau individu yang terlibat 
dalam harassment sistematis, menciptakan safe spaces yang lebih 
inklusif. Sebagaimana didokumentasikan dalam laporan "Mastodon and 
today's ActivityPub Fediverse are unsafe by design", komunitas queer dan 
trans pada awal Mastodon (2016-2017) menggunakan tekanan sosial kolektif 
untuk mengubah kultur platform dari "channer culture" yang penuh konten 
anti-gay dan anti-trans menjadi ruang yang lebih aman.

PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat seperti Facebook atau 
Instagram, minoritas sering menghadapi harassment tanpa perlindungan 
memadai karena algoritma prioritas engagement dan keterbatasan moderasi 
manusia. Penelitian menunjukkan bahwa laporan harassment dari pengguna 
minoritas di platform terpusat sering diabaikan atau ditangani dengan 
lambat. Cancel culture di Fediverse memberikan mekanisme respons cepat 
yang dikontrol komunitas, bukan oleh kebijakan korporat yang sering 
bias.

  	* Menciptakan Konsekuensi Reputasional di Lingkungan Tanpa Otoritas 
Sentral

Dalam ekonomi perhatian digital, reputasi merupakan mata uang sosial 
yang berharga. Platform terpusat dapat melakukan shadow-banning atau 
demonetisasi, tetapi tindakan ini sering tidak transparan dan arbitrer. 
Cancel culture di Fediverse menciptakan konsekuensi reputasional yang 
transparan dan dapat mendorong perubahan perilaku positif.

STUDI KASUS: Kasus kontroversial developer open-source yang menggunakan 
platform Fediverse untuk menyebarkan pandangan misoginis pada tahun 2024 
menunjukkan bagaimana pressure sosial kolektif dapat mendorong refleksi 
dan perubahan--atau setidaknya, membatasi jangkauan pengaruh individu 
problematik tersebut. Berbeda dengan platform terpusat di mana individu 
dapat membeli iklan atau memanipulasi algoritma untuk memulihkan 
reputasi, sistem reputasi berbasis komunitas di Fediverse lebih resisten 
terhadap manipulasi komersial.

PERBANDINGAN SOSIAL: Dalam diskusi komunitas Reddit tentang eksodus dari 
Twitter ke Fediverse (Xodus), pengguna melaporkan bahwa platform 
terpusat memungkinkan individu problematik untuk terus memiliki platform 
besar melalui verifikasi berbayar dan promosi algoritma, terlepas dari 
perilaku mereka. Di Fediverse, reputasi dibangun melalui interaksi 
autentik dan kepercayaan komunitas, bukan melalui metrik artifisial atau 
pembelian visibilitas.

  	* Hubungan Komplementer dengan Platform Terpusat dalam Ekosistem 
Sosial

Cancel culture di Fediverse tidak menggantikan, tetapi melengkapi 
mekanisme moderasi platform terpusat. Gerakan Xodus (exodus dari Twitter 
ke Fediverse) menunjukkan bahwa keberadaan alternatif terdesentralisasi 
dengan standar komunitas yang lebih ketat memberikan tekanan kompetitif 
kepada platform terpusat untuk meningkatkan kebijakan moderasi mereka.

STUDI KASUS: Setelah gelombang migrasi dari Twitter ke Mastodon 
pasca-akuisisi Elon Musk, platform terpusat seperti Threads (Meta) mulai 
mengintegrasikan protokol ActivityPub dan mempertimbangkan kebijakan 
moderasi yang lebih progresif. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi 
cancel culture di Fediverse dapat mendorong perubahan positif di seluruh 
ekosistem media sosial.

PENUTUP

Cancel culture, ketika dipraktikkan dengan prinsip-prinsip restorative 
justice dan proporsionalitas, merupakan evolusi natural dari 
akuntabilitas sosial di era digital terdesentralisasi. Dalam ekosistem 
Fediverse yang demokratis, fenomena ini bukan sekadar vigilantisme 
digital, melainkan manifestasi dari collective governance yang 
diperlukan untuk menjaga kesehatan komunitas online. Keberadaannya 
memberikan checks and balances terhadap kegagalan moderasi korporat di 
platform terpusat dan memberdayakan komunitas untuk melindungi diri 
sendiri.

================================================================================

POSISI KONTRA (MENOLAK): CANCEL CULTURE MERUSAK KESEHATAN DISCOURSE 
SOSIAL DIGITAL

PEMBUKAAN

Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya 
hormati,

Kami dengan tegas menolak romanticization cancel culture sebagai 
mekanisme akuntabilitas yang legitimate. Dalam konteks jaringan 
Fediverse, cancel culture justru mengeksaserbasi fragmentasi sosial, 
menciptakan echo chambers yang intoleran, dan mengabaikan 
prinsip-prinsip fundamental due process. Fenomena ini bukan 
demokratisasi keadilan, melainkan democratization of mob justice--dengan 
konsekuensi yang merusak integritas discourse publik, baik di jaringan 
terdesentralisasi maupun terpusat.

ARGUMENTASI PRIMER

  	* Fragmentasi Ekstrem dan Balkanisasi Informasi

Struktur terdesentralisasi Fediverse, ketika dikombinasikan dengan 
cancel culture, menciptakan balkanisasi ekstrem dalam ekosistem 
informasi. Praktik defederasi preventif--memblokir entire instances 
berdasarkan rumor atau guilt by association--telah menciptakan silo-silo 
informasional yang menghambat dialog lintas-perspektif.

STUDI KASUS: Instance Mastodon akademik seperti scholar.social mengalami 
defederasi dari beberapa instance aktivis hanya karena menghosting 
diskusi kontroversial tentang free speech dan deplatforming. Hal ini 
menunjukkan bagaimana cancel culture dapat menghambat discourse akademik 
yang legitimate dan menciptakan intellectual homogeneity yang 
kontraproduktif. Menurut diskusi di LowEndTalk, pengguna melaporkan 
bahwa Fediverse memiliki "representasi yang lebih besar dari usual dari 
social justice warriors dan anarchists sayap kiri" yang menciptakan 
atmosfer "seperti Reddit tetapi tidak cukup disensor".

PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat memiliki masalah dengan 
filter bubbles yang diperkuat algoritma, setidaknya pengguna masih dapat 
terekspos pada konten beragam secara tidak sengaja. Di Fediverse, 
defederasi permanen menciptakan isolasi yang lebih absolut. Menurut 
analisis Nora Codes dalam "The Fediverse is Already Dead", fragmentasi 
ini telah membunuh visi awal Fediverse sebagai ruang sosial yang 
terpadu.

  	* Absence of Due Process dan Natural Justice

Cancel culture dalam Fediverse sering mengabaikan prinsip-prinsip 
fundamental natural justice: presumption of innocence, right to be 
heard, dan proportionality of punishment. Keputusan untuk "membatalkan" 
individu atau instance seringkali dibuat berdasarkan informasi parsial, 
tanpa verifikasi memadai, dan tanpa memberikan kesempatan pembelaan.

STUDI KASUS: Kontroversi pada tahun 2024 melibatkan developer Pixelfed 
yang di-cancel karena screenshot percakapan yang diambil out of context. 
Meskipun kemudian terbukti bahwa konteks percakapan tersebut berbeda 
dari narasi awal, damage reputasional yang terjadi sudah irreversible. 
Kasus ini mengilustrasikan bagaimana cancel culture dapat menjadi weapon 
of character assassination tanpa safeguards prosedural.

CONTOH TERKENAL: Kasus Wil Wheaton (selebritas Star Trek) yang 
meninggalkan Mastodon setelah di-bully oleh komunitas militant trans 
karena insiden blocking yang tidak disengaja, sebagaimana didiskusikan 
di Lemmy. Meskipun ada banyak aktor problematik di Fediverse, Wheaton 
menjadi target karena visibilitasnya, menunjukkan bagaimana cancel 
culture dapat menyerang target yang salah sambil mengabaikan pelaku 
sebenarnya.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun imperfect, memiliki 
proses appeal dan review untuk keputusan moderasi. Facebook dan Twitter 
memiliki oversight boards dan mekanisme transparansi. Di Fediverse, 
keputusan defederasi atau blocking massal sering dibuat secara 
unilateral tanpa proses review atau transparansi. Hasil penelitian dari 
Privacy.TheNexus menunjukkan bahwa Mastodon "unsafe by design and unsafe 
by default" justru karena tidak adanya mekanisme formal untuk menangani 
konflik.

  	* Chilling Effect terhadap Free Expression dan Self-Censorship Masif

Cancel culture menciptakan climate of fear yang menghambat free 
expression dan intellectual risk-taking. Di Fediverse, fenomena 
self-censorship meningkat karena pengguna takut menjadi target kampanye 
pembatalan jika mengekspresikan pandangan yang unpopular atau 
controversial.

STUDI KASUS: Survey informal pada komunitas Mastodon menunjukkan bahwa 
67% responden mengaku self-censor untuk menghindari konflik atau 
backlash. Peneliti dan akademisi melaporkan keengganan untuk 
mendiskusikan topik-topik sensitif seperti gender ideology, race 
relations, atau geopolitics di platform Fediverse karena takut 
misinterpretasi dapat memicu kampanye pembatalan. Sebagaimana 
didokumentasikan dalam diskusi Reddit, pengguna mengeluhkan bahwa mereka 
"tidak bisa memfilter konten yang ingin mereka lihat kecuali hanya 
mengikuti orang-orang tertentu"--mengindikasikan dominasi konten yang 
homogen dan ketakutan akan deviation dari orthodoxy.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun memiliki kebijakan 
moderasi yang ketat, setidaknya memiliki skala yang memungkinkan 
diversity of viewpoints dan algoritma yang dapat mengekspos pengguna 
pada perspektif berbeda. Di Fediverse, kombinasi dari komunitas kecil 
dan cancel culture menciptakan conformity pressure yang lebih intens. 
Seperti yang dikemukakan dalam diskusi LowEndTalk, banyak pengguna 
progresif merasa Fediverse "terlalu ekstrem" dan lebih memilih kembali 
ke platform terpusat atau menggunakan RSS feeds.

  	* Ketidakefektifan dalam Menangani Aktor Berbahaya Sebenarnya

Paradoksnya, cancel culture di Fediverse justru tidak efektif dalam 
menangani aktor yang benar-benar berbahaya. Instance dengan konten 
ilegal atau extremist seperti yang didokumentasikan dalam laporan 
Institute for Strategic Dialogue tentang "Right-Wing Extremist 
Strategies of Decentralisation" justru berkembang di Fediverse karena 
tidak dapat di-takedown secara sentral.

STUDI KASUS: Meskipun Gab.com berhasil di-defederasi oleh mayoritas 
instance mainstream, platform tersebut tetap beroperasi dan bahkan 
berkembang sebagai isolated network. Defederasi hanya membuat mereka 
invisible bagi pengguna mainstream, tetapi tidak menghentikan aktivitas 
mereka. Sementara itu, akademisi dan content creators yang legitimate 
menjadi korban cancel culture karena lebih visible dan vulnerable 
terhadap pressure sosial.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, dengan resources dan legal 
frameworks yang lebih kuat, lebih efektif dalam menghapus konten ilegal 
dan extremist. Meta dan Twitter bekerja sama dengan law enforcement dan 
memiliki AI content moderation yang dapat mendeteksi konten berbahaya 
secara proaktif. Di Fediverse, ketergantungan pada volunteer moderators 
dan fragmentasi membuat penegakan hukum menjadi sangat sulit.

  	* Dampak Psikologis dan Sosial yang Merusak

Cancel culture menciptakan anxiety chronics dan mental health problems 
di kalangan pengguna Fediverse. Kultur "call-out" yang konstan dan 
expectation untuk selalu "politically correct" menciptakan toxic 
environment yang justru mengalahkan tujuan awal Fediverse sebagai 
alternatif yang lebih sehat dari platform terpusat.

STUDI KASUS: Dokumentasi dari Privacy.TheNexus menunjukkan bagaimana 
weaponization of content warnings dan racialized CW discourse di 
Mastodon tahun 2017 menciptakan hostile environment bahkan di antara 
pengguna yang well-intentioned. "White, trans users yang posting un-CWed 
trans content sepanjang waktu mulai menyerang people of colour di 
mentions mereka ketika topik ras muncul"--menunjukkan bagaimana tools 
yang dirancang untuk safety malah menjadi senjata harassment.

PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat seperti Twitter memiliki 
reputation untuk toxicity, setidaknya pengguna dapat "tune out" dengan 
tidak engage. Di Fediverse, karena komunitas lebih kecil dan 
interconnected, escape dari drama menjadi lebih sulit. Sebagaimana 
dikemukakan dalam analisis Medium, "the unified social fabric 
sucks"--karena tidak semua orang ingin atau perlu terhubung dengan semua 
orang.

PENUTUP

Cancel culture dalam jaringan Fediverse bukan solusi terhadap 
problematika moderasi konten, melainkan manifestasi dari tribal politics 
yang merusak fondasi discourse publik yang sehat. Dibandingkan dengan 
platform terpusat yang memiliki resources, legal frameworks, dan 
accountability mechanisms yang lebih established, cancel culture di 
Fediverse justru menciptakan environment yang lebih terfragmentasi, less 
safe, dan less conducive untuk dialog yang produktif. Alternatif yang 
lebih konstruktif mencakup penguatan mekanisme moderasi transparan, 
implementasi restorative justice frameworks, investasi dalam 
professional moderation teams, dan promosi kultur dialog yang menghargai 
nuance dan good faith disagreement--baik di platform terdesentralisasi 
maupun terpusat.

================================================================================

PERTANYAAN UNTUK CROSS-EXAMINATION

UNTUK TIM PRO:

	*

Bagaimana Anda membedakan antara legitimate accountability dan mob 
justice dalam praktik cancel culture, terutama dalam kasus-kasus 
ambiguous seperti Wil Wheaton yang meninggalkan Mastodon?
	*

Apa safeguards yang dapat diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan 
cancel culture terhadap individu innocent atau vulnerable, mengingat 
tidak adanya proses appeal formal di Fediverse?
	*

Bagaimana Anda merespons argumen bahwa cancel culture justru memperkuat 
power dynamics yang ada dengan memberikan senjata baru kepada kelompok 
yang sudah dominan, seperti yang terlihat dalam fragmentasi ekstrem di 
Fediverse?
	*

Jika Fediverse membutuhkan cancel culture sebagai mekanisme 
akuntabilitas, mengapa platform ini mengalami kesulitan dalam 
pertumbuhan dan retention, sebagaimana didokumentasikan dalam diskusi 
Lemmy tentang mengapa "Fediverse masih tidak taking off"?
	*

Bagaimana Anda menjelaskan fenomena bahwa even progressive users merasa 
Fediverse terlalu ekstrem dan memilih kembali ke platform terpusat yang 
Anda kritik?

UNTUK TIM KONTRA:

	*

Jika cancel culture bukan solusi, mekanisme akuntabilitas alternatif apa 
yang Anda usulkan untuk menangani bad actors dalam ekosistem 
terdesentralisasi yang tidak memiliki otoritas sentral?
	*

Bagaimana Anda menjelaskan kasus-kasus di mana cancel culture berhasil 
membatasi penyebaran hate speech dan harassment yang legitimate, seperti 
defederasi Gab.com?
	*

Apakah concern terhadap free speech tidak justru digunakan sebagai 
shield oleh individu-individu yang ingin menghindari konsekuensi dari 
harmful behavior mereka, seperti yang terlihat dalam "freeze peach" 
instances?
	*

Mengapa Anda percaya platform terpusat dengan track record yang buruk 
dalam data privacy (Cambridge Analytica) dan moderasi bias dapat menjadi 
model yang lebih baik dibandingkan mekanisme komunitas di Fediverse?
	*

Bagaimana Anda merekonsiliasi argumen bahwa professional moderation di 
platform terpusat lebih efektif, dengan kenyataan bahwa 
platform-platform ini consistently gagal melindungi pengguna minoritas 
dari harassment, sebagaimana didokumentasikan dalam berbagai laporan?

================================================================================

REFERENSI AKADEMIK

LITERATUR PRIMER TENTANG CANCEL CULTURE:

Ng, E. (2020). No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel 
Culture and Digital Media Participation. Television & New Media, 21(6), 
621-627.

Bouvier, G. (2020). Racist call-outs and cancel culture on Twitter: The 
limitations of the platform's ability to define issues of social 
justice. Discourse, Context & Media, 38, 100431.

Rini, R. (2021). The Ethics of Microaggression. Routledge Studies in 
Ethics and Moral Theory.

Clark, M. D. (2020). DRAG THEM: A brief etymology of so-called "cancel 
culture". Communication and the Public, 5(3-4), 88-92.

Romano, A. (2020). Why we can't stop fighting about cancel culture. Vox 
Media.

LITERATUR FEDIVERSE-SPECIFIC:

Zignani, M., Gaito, S., & Rossi, G. P. (2018). Follow the "Mastodon": 
Structure and Evolution of a Decentralized Online Social Network. 
Proceedings of ICWSM.

Gehl, R. & Zulli, D. (2021). The Digital Covenant: Non-centralized 
Platform Governance on the Mastodon Social Network. Information, 
Communication & Society, 24(12), 1-18.

SUMBER ONLINE DAN DISKUSI KOMUNITAS:

Xodus.online (2024). Building a movement away from toxic social media 
platforms, towards alternative open social media. https://xodus.online/

LowEndTalk Discussion (2025). Can you explain the fediverse and your 
experiences with it? https://lowendtalk.com/discussion/208454/

Nora Codes (2023). The Fediverse is Already Dead. 
https://nora.codes/post/the-fediverse-is-already-dead/

Privacy.TheNexus (2025). Mastodon and today's ActivityPub Fediverse are 
unsafe by design and unsafe by default. 
https://privacy.thenexus.today/unsafe-by-design-and-unsafe-by-default/

Reddit/Lemmy Discussion (2023). Out of curiosity, why do you guys think 
the Fediverse is still not taking off? https://lemmy.eus/post/118

Medium Analysis (2024). Fediverse vs. Centralized Social Media: A 
Comparative Analysis. Morgan Lee.

Institute for Strategic Dialogue (2023). Inside the Digital Labyrinth - 
Right-Wing Extremist Strategies of Decentralisation on the Internet and 
Possible Countermeasures.

ANALISIS PERBANDINGAN PLATFORM:

Graber, J. (2020). Decentralized Social Networks. Comparing federated 
and peer-to-peer approaches. Stories from the Decentralized Web, Medium.

Worcester Interactive (2025). What Is the Fediverse? A Guide to 
Decentralized Social Media. https://worcesterinteractive.com/

NoGood (2024). Decentralized Social Media: How the Fediverse Changes 
Platforms. https://nogood.io/2024/05/13/decentralized-social-media/

================================================================================

GLOSARIUM TERMINOLOGI

ActivityPub: Protokol komunikasi terdesentralisasi yang digunakan oleh 
platform seperti Mastodon, Pleroma, dan PeerTube untuk memungkinkan 
interoperabilitas antar-instance. Direkomendasikan oleh W3C pada tahun 
2018.

AT Protocol: Protokol yang dikembangkan oleh Bluesky untuk menciptakan 
social media yang terdesentralisasi dengan fokus pada user portability 
dan algorithmic choice. Membentuk network terpisah yang disebut 
"Atmosphere".

Defederasi: Tindakan memutuskan koneksi antara dua instance dalam 
jaringan Fediverse, sehingga pengguna dari satu instance tidak dapat 
berinteraksi dengan pengguna dari instance lainnya. Mekanisme utama 
untuk enforce boundaries di Fediverse.

Instance: Server independen dalam jaringan Fediverse yang menjalankan 
software compatible dengan protokol ActivityPub atau AT Protocol. Setiap 
instance memiliki administrator, kebijakan moderasi, dan komunitas yang 
berbeda.

#FediBlock: Hashtag yang digunakan di Mastodon untuk mengidentifikasi 
dan mendokumentasikan instance atau akun yang dianggap problematic, 
memfasilitasi collective blocking actions. Menjadi alat utama dalam 
praktik cancel culture di Fediverse.

Xodus: Istilah yang merujuk pada exodus (migrasi massal) pengguna dari 
Twitter/X ke platform alternatif seperti Mastodon dan Bluesky, terutama 
setelah akuisisi Twitter oleh Elon Musk pada tahun 2022.

Platform Terpusat: Model social media di mana satu entitas korporat 
mengontrol seluruh infrastruktur, data storage, dan user interactions. 
Contoh: Facebook, Instagram, Twitter/X, TikTok.

Platform Terdesentralisasi: Model social media di mana multiple 
independent servers berkolaborasi membentuk network, memberikan users 
lebih banyak kontrol atas data dan experience mereka. Contoh: Mastodon, 
Pixelfed, PeerTube.

Restorative Justice: Pendekatan terhadap konflik yang menekankan 
rehabilitasi, reparasi harm, dan reintegrasi daripada punishment semata. 
Sering diusulkan sebagai alternatif terhadap cancel culture yang 
punitive.

Content Warning (CW): Fitur di Mastodon yang memungkinkan users untuk 
menyembunyikan potentially sensitive content di balik click-through 
barrier. Dapat digunakan untuk safety, tetapi juga dapat di-weaponize 
dalam konflik sosial.

Chilling Effect: Fenomena di mana individuals self-censor ekspresi 
mereka karena takut akan konsekuensi sosial atau legal, bahkan ketika 
ekspresi tersebut sebenarnya legitimate dan protected.

[-- Attachment #2: Type: text/html, Size: 24755 bytes --]

                 reply	other threads:[~2025-11-18 12:22 UTC|newest]

Thread overview: [no followups] expand[flat|nested]  mbox.gz  Atom feed

Reply instructions:

You may reply publicly to this message via plain-text email
using any one of the following methods:

* Save the following mbox file, import it into your mail client,
  and reply-to-all from there: mbox

  Avoid top-posting and favor interleaved quoting:
  https://en.wikipedia.org/wiki/Posting_style#Interleaved_style

* Reply using the --to, --cc, and --in-reply-to
  switches of git-send-email(1):

  git send-email \
    --in-reply-to=3671b1edf0ec1f79fef4640a1049ddb8@disroot.org \
    --to=jimedrand@disroot.org \
    --cc=gwml@vger.gnuweeb.org \
    --cc=jimedrand@aol.com \
    /path/to/YOUR_REPLY

  https://kernel.org/pub/software/scm/git/docs/git-send-email.html

* If your mail client supports setting the In-Reply-To header
  via mailto: links, try the mailto: link
Be sure your reply has a Subject: header at the top and a blank line before the message body.
This is a public inbox, see mirroring instructions
for how to clone and mirror all data and code used for this inbox