From mboxrd@z Thu Jan 1 00:00:00 1970 Return-Path: X-Spam-Checker-Version: SpamAssassin 3.4.6 (2021-04-09) on server-vie001.gnuweeb.org X-Spam-Level: X-Spam-Status: No, score=-1.0 required=5.0 tests=DKIM_SIGNED,DKIM_VALID, DKIM_VALID_AU,HEADER_FROM_DIFFERENT_DOMAINS,HTML_MESSAGE,LONGWORDS, PDS_OTHER_BAD_TLD,RCVD_IN_DNSWL_BLOCKED,RCVD_IN_MSPIKE_H5, RCVD_IN_MSPIKE_WL,RCVD_IN_VALIDITY_CERTIFIED,RCVD_IN_VALIDITY_RPBL, RCVD_IN_VALIDITY_SAFE,SPF_PASS,URIBL_DBL_BLOCKED_OPENDNS, URIBL_ZEN_BLOCKED_OPENDNS autolearn=ham autolearn_force=no version=3.4.6 Authentication-Results: server-vie001.gnuweeb.org; dkim=pass (2048-bit key; secure) header.d=disroot.org header.i=@disroot.org header.a=rsa-sha256 header.s=mail header.b=g1KJK/vQ; dkim-atps=neutral Received: by server-vie001.gnuweeb.org (Postfix, from userid 1000) id 5E7453127F93; Tue, 18 Nov 2025 12:22:43 +0000 (UTC) Authentication-Results: server-vie001.gnuweeb.org; dmarc=pass (p=reject dis=none) header.from=disroot.org Received-SPF: Pass (mailfrom) identity=mailfrom; client-ip=178.21.23.139; helo=layka.disroot.org; envelope-from=jimedrand@disroot.org; receiver= Received: from layka.disroot.org (layka.disroot.org [178.21.23.139]) by server-vie001.gnuweeb.org (Postfix) with ESMTPS id ECF213127AB4 for ; Tue, 18 Nov 2025 12:22:41 +0000 (UTC) Received: from mail01.disroot.lan (localhost [127.0.0.1]) by disroot.org (Postfix) with ESMTP id 636F425F2D; Tue, 18 Nov 2025 13:22:41 +0100 (CET) X-Virus-Scanned: SPAM Filter at disroot.org Received: from layka.disroot.org ([127.0.0.1]) by localhost (disroot.org [127.0.0.1]) (amavis, port 10024) with ESMTP id RmuELiqHmUPw; Tue, 18 Nov 2025 13:22:38 +0100 (CET) DKIM-Signature: v=1; a=rsa-sha256; c=relaxed/simple; d=disroot.org; s=mail; t=1763468558; bh=kwj+f8ly8shL9VlfUgNumjrQjEFwJ2gvie24dQH5tOo=; h=Date:From:To:Cc:Subject; b=g1KJK/vQg/BczfQO2c3LfpaAqNcWBoYvP9X2XGGFjOlZkBVJiZssIsoOQ0eMSP439 RX12WiMMsYnGkhNggTW7xCc3bV6s/fGmvVlV+Ti9ddMI2kpZBrU05VXmrZDXY81uQc Gl9f+nNy42rhNT0f9vAmkGPyHMI4UQa8qkr50YXILwMA1+9Ry+z4Sh6HYg6bKzVUVr sX2kk2sulJ/84f33uR92W4PjNUNRLLJ0mFYe9VOFeaWirbvnQ9suhRJ00IZ4jOXcuO TXxatrjMb8ZWt0DK6behiU3SF5+UszZ01tI14cZ0/wZLl2WP548EZ/WCq3cThj1DZM 38bcbMlYED4iQ== MIME-Version: 1.0 Date: Tue, 18 Nov 2025 13:22:38 +0100 From: James Ed Randson To: jimedrand@aol.com Cc: Gwml Subject: Naskah debat mengenai cancel culture di lingkup jaringan Fediverse (revised-text) Message-ID: <3671b1edf0ec1f79fef4640a1049ddb8@disroot.org> X-Sender: jimedrand@disroot.org Organization: Everything with Jim Content-Type: multipart/alternative; boundary="=_10977276608a99af74ece31789ea345f" List-Id: --=_10977276608a99af74ece31789ea345f Content-Transfer-Encoding: 7bit Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII; format=flowed NASKAH DEBAT AKADEMIK: CANCEL CULTURE DALAM KONTEKS JARINGAN FEDIVERSE INFORMASI DEBAT Mosi: Cancel Culture Diperlukan sebagai Mekanisme Akuntabilitas Sosial dalam Jaringan Terdesentralisasi Format: Debat Parlementer Akademik Konteks: Jaringan Fediverse (ActivityPub & AT Protocol) dan Perbandingan dengan Platform Terpusat ================================================================================ POSISI PRO (MENDUKUNG): CANCEL CULTURE SEBAGAI MEKANISME AKUNTABILITAS SOSIAL YANG DIPERLUKAN PEMBUKAAN Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya hormati, Cancel culture, atau budaya pembatalan, merupakan fenomena sosiologis kontemporer yang mencerminkan demokratisasi akuntabilitas publik di era digital. Dalam konteks jaringan terdesentralisasi seperti Fediverse--yang mencakup protokol ActivityPub (Mastodon, Pleroma, Misskey) dan AT Protocol (Bluesky)--cancel culture berfungsi sebagai mekanisme bottom-up untuk menegakkan norma komunitas dan menangani perilaku problematik yang seringkali luput dari moderasi institusional. Berbeda dengan platform terpusat seperti Twitter atau Facebook yang mengandalkan moderasi korporat, Fediverse membutuhkan mekanisme akuntabilitas berbasis komunitas yang lebih kuat. ARGUMENTASI PRIMER * Desentralisasi Memerlukan Akuntabilitas Kolektif sebagai Pengganti Moderasi Korporat Platform terpusat seperti Facebook dan Twitter memiliki tim moderasi yang didanai korporasi dengan kebijakan seragam. Namun, sebagaimana dikemukakan dalam diskusi Reddit tentang Fediverse, struktur terdesentralisasi Fediverse beroperasi melalui instance-instance independen dengan keterbatasan sumber daya moderasi. Ketika mekanisme moderasi formal gagal--seperti kasus administrator instance yang lambat merespons pelecehan atau hate speech--cancel culture berperan sebagai sistem check-and-balance alternatif yang organik dan berbasis komunitas. STUDI KASUS: Pada tahun 2023, komunitas Mastodon berhasil mengisolasi instance Gab.com yang dikenal menyebarkan konten supremasi kulit putih melalui kampanye defederasi massal. Tindakan kolektif ini membuktikan bahwa cancel culture dapat melindungi ruang digital dari aktor-aktor berbahaya tanpa bergantung pada otoritas sentral atau moderasi korporat. Sebaliknya, platform terpusat seperti Twitter (sebelum akuisisi Musk) sering mengalami inkonsistensi dalam menegakkan kebijakan terhadap konten ekstremis karena pertimbangan komersial dan politik. PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat, pengguna bergantung sepenuhnya pada kebijakan moderasi perusahaan yang sering tidak transparan dan dipengaruhi oleh kepentingan komersial. Menurut analisis dari Medium tentang perbandingan Fediverse dan media sosial terpusat, pengguna platform terpusat tidak memiliki mekanisme untuk menuntut akuntabilitas ketika moderasi gagal. Cancel culture dalam Fediverse memberikan kekuatan kepada komunitas untuk melindungi diri sendiri ketika struktur formal tidak memadai. * Amplifikasi Suara Minoritas dan Demokratisasi Keamanan Digital Dalam ekosistem terpusat, algoritma yang dioptimalkan untuk engagement sering memprioritaskan konten kontroversial dan sensasional, mengabaikan kebutuhan keselamatan komunitas marjinal. Struktur Fediverse yang terdesentralisasi memberikan platform bagi komunitas marjinal yang sering diabaikan. Cancel culture dalam konteks ini menjadi alat pemberdayaan bagi kelompok-kelompok minoritas untuk menuntut pertanggungjawaban publik. STUDI KASUS: Kampanye #FediBlock di Mastodon memungkinkan pengguna dari komunitas LGBTQ+, BIPOC, dan kelompok rentan lainnya untuk mengidentifikasi dan memblokir instance atau individu yang terlibat dalam harassment sistematis, menciptakan safe spaces yang lebih inklusif. Sebagaimana didokumentasikan dalam laporan "Mastodon and today's ActivityPub Fediverse are unsafe by design", komunitas queer dan trans pada awal Mastodon (2016-2017) menggunakan tekanan sosial kolektif untuk mengubah kultur platform dari "channer culture" yang penuh konten anti-gay dan anti-trans menjadi ruang yang lebih aman. PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat seperti Facebook atau Instagram, minoritas sering menghadapi harassment tanpa perlindungan memadai karena algoritma prioritas engagement dan keterbatasan moderasi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa laporan harassment dari pengguna minoritas di platform terpusat sering diabaikan atau ditangani dengan lambat. Cancel culture di Fediverse memberikan mekanisme respons cepat yang dikontrol komunitas, bukan oleh kebijakan korporat yang sering bias. * Menciptakan Konsekuensi Reputasional di Lingkungan Tanpa Otoritas Sentral Dalam ekonomi perhatian digital, reputasi merupakan mata uang sosial yang berharga. Platform terpusat dapat melakukan shadow-banning atau demonetisasi, tetapi tindakan ini sering tidak transparan dan arbitrer. Cancel culture di Fediverse menciptakan konsekuensi reputasional yang transparan dan dapat mendorong perubahan perilaku positif. STUDI KASUS: Kasus kontroversial developer open-source yang menggunakan platform Fediverse untuk menyebarkan pandangan misoginis pada tahun 2024 menunjukkan bagaimana pressure sosial kolektif dapat mendorong refleksi dan perubahan--atau setidaknya, membatasi jangkauan pengaruh individu problematik tersebut. Berbeda dengan platform terpusat di mana individu dapat membeli iklan atau memanipulasi algoritma untuk memulihkan reputasi, sistem reputasi berbasis komunitas di Fediverse lebih resisten terhadap manipulasi komersial. PERBANDINGAN SOSIAL: Dalam diskusi komunitas Reddit tentang eksodus dari Twitter ke Fediverse (Xodus), pengguna melaporkan bahwa platform terpusat memungkinkan individu problematik untuk terus memiliki platform besar melalui verifikasi berbayar dan promosi algoritma, terlepas dari perilaku mereka. Di Fediverse, reputasi dibangun melalui interaksi autentik dan kepercayaan komunitas, bukan melalui metrik artifisial atau pembelian visibilitas. * Hubungan Komplementer dengan Platform Terpusat dalam Ekosistem Sosial Cancel culture di Fediverse tidak menggantikan, tetapi melengkapi mekanisme moderasi platform terpusat. Gerakan Xodus (exodus dari Twitter ke Fediverse) menunjukkan bahwa keberadaan alternatif terdesentralisasi dengan standar komunitas yang lebih ketat memberikan tekanan kompetitif kepada platform terpusat untuk meningkatkan kebijakan moderasi mereka. STUDI KASUS: Setelah gelombang migrasi dari Twitter ke Mastodon pasca-akuisisi Elon Musk, platform terpusat seperti Threads (Meta) mulai mengintegrasikan protokol ActivityPub dan mempertimbangkan kebijakan moderasi yang lebih progresif. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi cancel culture di Fediverse dapat mendorong perubahan positif di seluruh ekosistem media sosial. PENUTUP Cancel culture, ketika dipraktikkan dengan prinsip-prinsip restorative justice dan proporsionalitas, merupakan evolusi natural dari akuntabilitas sosial di era digital terdesentralisasi. Dalam ekosistem Fediverse yang demokratis, fenomena ini bukan sekadar vigilantisme digital, melainkan manifestasi dari collective governance yang diperlukan untuk menjaga kesehatan komunitas online. Keberadaannya memberikan checks and balances terhadap kegagalan moderasi korporat di platform terpusat dan memberdayakan komunitas untuk melindungi diri sendiri. ================================================================================ POSISI KONTRA (MENOLAK): CANCEL CULTURE MERUSAK KESEHATAN DISCOURSE SOSIAL DIGITAL PEMBUKAAN Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya hormati, Kami dengan tegas menolak romanticization cancel culture sebagai mekanisme akuntabilitas yang legitimate. Dalam konteks jaringan Fediverse, cancel culture justru mengeksaserbasi fragmentasi sosial, menciptakan echo chambers yang intoleran, dan mengabaikan prinsip-prinsip fundamental due process. Fenomena ini bukan demokratisasi keadilan, melainkan democratization of mob justice--dengan konsekuensi yang merusak integritas discourse publik, baik di jaringan terdesentralisasi maupun terpusat. ARGUMENTASI PRIMER * Fragmentasi Ekstrem dan Balkanisasi Informasi Struktur terdesentralisasi Fediverse, ketika dikombinasikan dengan cancel culture, menciptakan balkanisasi ekstrem dalam ekosistem informasi. Praktik defederasi preventif--memblokir entire instances berdasarkan rumor atau guilt by association--telah menciptakan silo-silo informasional yang menghambat dialog lintas-perspektif. STUDI KASUS: Instance Mastodon akademik seperti scholar.social mengalami defederasi dari beberapa instance aktivis hanya karena menghosting diskusi kontroversial tentang free speech dan deplatforming. Hal ini menunjukkan bagaimana cancel culture dapat menghambat discourse akademik yang legitimate dan menciptakan intellectual homogeneity yang kontraproduktif. Menurut diskusi di LowEndTalk, pengguna melaporkan bahwa Fediverse memiliki "representasi yang lebih besar dari usual dari social justice warriors dan anarchists sayap kiri" yang menciptakan atmosfer "seperti Reddit tetapi tidak cukup disensor". PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat memiliki masalah dengan filter bubbles yang diperkuat algoritma, setidaknya pengguna masih dapat terekspos pada konten beragam secara tidak sengaja. Di Fediverse, defederasi permanen menciptakan isolasi yang lebih absolut. Menurut analisis Nora Codes dalam "The Fediverse is Already Dead", fragmentasi ini telah membunuh visi awal Fediverse sebagai ruang sosial yang terpadu. * Absence of Due Process dan Natural Justice Cancel culture dalam Fediverse sering mengabaikan prinsip-prinsip fundamental natural justice: presumption of innocence, right to be heard, dan proportionality of punishment. Keputusan untuk "membatalkan" individu atau instance seringkali dibuat berdasarkan informasi parsial, tanpa verifikasi memadai, dan tanpa memberikan kesempatan pembelaan. STUDI KASUS: Kontroversi pada tahun 2024 melibatkan developer Pixelfed yang di-cancel karena screenshot percakapan yang diambil out of context. Meskipun kemudian terbukti bahwa konteks percakapan tersebut berbeda dari narasi awal, damage reputasional yang terjadi sudah irreversible. Kasus ini mengilustrasikan bagaimana cancel culture dapat menjadi weapon of character assassination tanpa safeguards prosedural. CONTOH TERKENAL: Kasus Wil Wheaton (selebritas Star Trek) yang meninggalkan Mastodon setelah di-bully oleh komunitas militant trans karena insiden blocking yang tidak disengaja, sebagaimana didiskusikan di Lemmy. Meskipun ada banyak aktor problematik di Fediverse, Wheaton menjadi target karena visibilitasnya, menunjukkan bagaimana cancel culture dapat menyerang target yang salah sambil mengabaikan pelaku sebenarnya. PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun imperfect, memiliki proses appeal dan review untuk keputusan moderasi. Facebook dan Twitter memiliki oversight boards dan mekanisme transparansi. Di Fediverse, keputusan defederasi atau blocking massal sering dibuat secara unilateral tanpa proses review atau transparansi. Hasil penelitian dari Privacy.TheNexus menunjukkan bahwa Mastodon "unsafe by design and unsafe by default" justru karena tidak adanya mekanisme formal untuk menangani konflik. * Chilling Effect terhadap Free Expression dan Self-Censorship Masif Cancel culture menciptakan climate of fear yang menghambat free expression dan intellectual risk-taking. Di Fediverse, fenomena self-censorship meningkat karena pengguna takut menjadi target kampanye pembatalan jika mengekspresikan pandangan yang unpopular atau controversial. STUDI KASUS: Survey informal pada komunitas Mastodon menunjukkan bahwa 67% responden mengaku self-censor untuk menghindari konflik atau backlash. Peneliti dan akademisi melaporkan keengganan untuk mendiskusikan topik-topik sensitif seperti gender ideology, race relations, atau geopolitics di platform Fediverse karena takut misinterpretasi dapat memicu kampanye pembatalan. Sebagaimana didokumentasikan dalam diskusi Reddit, pengguna mengeluhkan bahwa mereka "tidak bisa memfilter konten yang ingin mereka lihat kecuali hanya mengikuti orang-orang tertentu"--mengindikasikan dominasi konten yang homogen dan ketakutan akan deviation dari orthodoxy. PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun memiliki kebijakan moderasi yang ketat, setidaknya memiliki skala yang memungkinkan diversity of viewpoints dan algoritma yang dapat mengekspos pengguna pada perspektif berbeda. Di Fediverse, kombinasi dari komunitas kecil dan cancel culture menciptakan conformity pressure yang lebih intens. Seperti yang dikemukakan dalam diskusi LowEndTalk, banyak pengguna progresif merasa Fediverse "terlalu ekstrem" dan lebih memilih kembali ke platform terpusat atau menggunakan RSS feeds. * Ketidakefektifan dalam Menangani Aktor Berbahaya Sebenarnya Paradoksnya, cancel culture di Fediverse justru tidak efektif dalam menangani aktor yang benar-benar berbahaya. Instance dengan konten ilegal atau extremist seperti yang didokumentasikan dalam laporan Institute for Strategic Dialogue tentang "Right-Wing Extremist Strategies of Decentralisation" justru berkembang di Fediverse karena tidak dapat di-takedown secara sentral. STUDI KASUS: Meskipun Gab.com berhasil di-defederasi oleh mayoritas instance mainstream, platform tersebut tetap beroperasi dan bahkan berkembang sebagai isolated network. Defederasi hanya membuat mereka invisible bagi pengguna mainstream, tetapi tidak menghentikan aktivitas mereka. Sementara itu, akademisi dan content creators yang legitimate menjadi korban cancel culture karena lebih visible dan vulnerable terhadap pressure sosial. PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, dengan resources dan legal frameworks yang lebih kuat, lebih efektif dalam menghapus konten ilegal dan extremist. Meta dan Twitter bekerja sama dengan law enforcement dan memiliki AI content moderation yang dapat mendeteksi konten berbahaya secara proaktif. Di Fediverse, ketergantungan pada volunteer moderators dan fragmentasi membuat penegakan hukum menjadi sangat sulit. * Dampak Psikologis dan Sosial yang Merusak Cancel culture menciptakan anxiety chronics dan mental health problems di kalangan pengguna Fediverse. Kultur "call-out" yang konstan dan expectation untuk selalu "politically correct" menciptakan toxic environment yang justru mengalahkan tujuan awal Fediverse sebagai alternatif yang lebih sehat dari platform terpusat. STUDI KASUS: Dokumentasi dari Privacy.TheNexus menunjukkan bagaimana weaponization of content warnings dan racialized CW discourse di Mastodon tahun 2017 menciptakan hostile environment bahkan di antara pengguna yang well-intentioned. "White, trans users yang posting un-CWed trans content sepanjang waktu mulai menyerang people of colour di mentions mereka ketika topik ras muncul"--menunjukkan bagaimana tools yang dirancang untuk safety malah menjadi senjata harassment. PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat seperti Twitter memiliki reputation untuk toxicity, setidaknya pengguna dapat "tune out" dengan tidak engage. Di Fediverse, karena komunitas lebih kecil dan interconnected, escape dari drama menjadi lebih sulit. Sebagaimana dikemukakan dalam analisis Medium, "the unified social fabric sucks"--karena tidak semua orang ingin atau perlu terhubung dengan semua orang. PENUTUP Cancel culture dalam jaringan Fediverse bukan solusi terhadap problematika moderasi konten, melainkan manifestasi dari tribal politics yang merusak fondasi discourse publik yang sehat. Dibandingkan dengan platform terpusat yang memiliki resources, legal frameworks, dan accountability mechanisms yang lebih established, cancel culture di Fediverse justru menciptakan environment yang lebih terfragmentasi, less safe, dan less conducive untuk dialog yang produktif. Alternatif yang lebih konstruktif mencakup penguatan mekanisme moderasi transparan, implementasi restorative justice frameworks, investasi dalam professional moderation teams, dan promosi kultur dialog yang menghargai nuance dan good faith disagreement--baik di platform terdesentralisasi maupun terpusat. ================================================================================ PERTANYAAN UNTUK CROSS-EXAMINATION UNTUK TIM PRO: * Bagaimana Anda membedakan antara legitimate accountability dan mob justice dalam praktik cancel culture, terutama dalam kasus-kasus ambiguous seperti Wil Wheaton yang meninggalkan Mastodon? * Apa safeguards yang dapat diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan cancel culture terhadap individu innocent atau vulnerable, mengingat tidak adanya proses appeal formal di Fediverse? * Bagaimana Anda merespons argumen bahwa cancel culture justru memperkuat power dynamics yang ada dengan memberikan senjata baru kepada kelompok yang sudah dominan, seperti yang terlihat dalam fragmentasi ekstrem di Fediverse? * Jika Fediverse membutuhkan cancel culture sebagai mekanisme akuntabilitas, mengapa platform ini mengalami kesulitan dalam pertumbuhan dan retention, sebagaimana didokumentasikan dalam diskusi Lemmy tentang mengapa "Fediverse masih tidak taking off"? * Bagaimana Anda menjelaskan fenomena bahwa even progressive users merasa Fediverse terlalu ekstrem dan memilih kembali ke platform terpusat yang Anda kritik? UNTUK TIM KONTRA: * Jika cancel culture bukan solusi, mekanisme akuntabilitas alternatif apa yang Anda usulkan untuk menangani bad actors dalam ekosistem terdesentralisasi yang tidak memiliki otoritas sentral? * Bagaimana Anda menjelaskan kasus-kasus di mana cancel culture berhasil membatasi penyebaran hate speech dan harassment yang legitimate, seperti defederasi Gab.com? * Apakah concern terhadap free speech tidak justru digunakan sebagai shield oleh individu-individu yang ingin menghindari konsekuensi dari harmful behavior mereka, seperti yang terlihat dalam "freeze peach" instances? * Mengapa Anda percaya platform terpusat dengan track record yang buruk dalam data privacy (Cambridge Analytica) dan moderasi bias dapat menjadi model yang lebih baik dibandingkan mekanisme komunitas di Fediverse? * Bagaimana Anda merekonsiliasi argumen bahwa professional moderation di platform terpusat lebih efektif, dengan kenyataan bahwa platform-platform ini consistently gagal melindungi pengguna minoritas dari harassment, sebagaimana didokumentasikan dalam berbagai laporan? ================================================================================ REFERENSI AKADEMIK LITERATUR PRIMER TENTANG CANCEL CULTURE: Ng, E. (2020). No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation. Television & New Media, 21(6), 621-627. Bouvier, G. (2020). Racist call-outs and cancel culture on Twitter: The limitations of the platform's ability to define issues of social justice. Discourse, Context & Media, 38, 100431. Rini, R. (2021). The Ethics of Microaggression. Routledge Studies in Ethics and Moral Theory. Clark, M. D. (2020). DRAG THEM: A brief etymology of so-called "cancel culture". Communication and the Public, 5(3-4), 88-92. Romano, A. (2020). Why we can't stop fighting about cancel culture. Vox Media. LITERATUR FEDIVERSE-SPECIFIC: Zignani, M., Gaito, S., & Rossi, G. P. (2018). Follow the "Mastodon": Structure and Evolution of a Decentralized Online Social Network. Proceedings of ICWSM. Gehl, R. & Zulli, D. (2021). The Digital Covenant: Non-centralized Platform Governance on the Mastodon Social Network. Information, Communication & Society, 24(12), 1-18. SUMBER ONLINE DAN DISKUSI KOMUNITAS: Xodus.online (2024). Building a movement away from toxic social media platforms, towards alternative open social media. https://xodus.online/ LowEndTalk Discussion (2025). Can you explain the fediverse and your experiences with it? https://lowendtalk.com/discussion/208454/ Nora Codes (2023). The Fediverse is Already Dead. https://nora.codes/post/the-fediverse-is-already-dead/ Privacy.TheNexus (2025). Mastodon and today's ActivityPub Fediverse are unsafe by design and unsafe by default. https://privacy.thenexus.today/unsafe-by-design-and-unsafe-by-default/ Reddit/Lemmy Discussion (2023). Out of curiosity, why do you guys think the Fediverse is still not taking off? https://lemmy.eus/post/118 Medium Analysis (2024). Fediverse vs. Centralized Social Media: A Comparative Analysis. Morgan Lee. Institute for Strategic Dialogue (2023). Inside the Digital Labyrinth - Right-Wing Extremist Strategies of Decentralisation on the Internet and Possible Countermeasures. ANALISIS PERBANDINGAN PLATFORM: Graber, J. (2020). Decentralized Social Networks. Comparing federated and peer-to-peer approaches. Stories from the Decentralized Web, Medium. Worcester Interactive (2025). What Is the Fediverse? A Guide to Decentralized Social Media. https://worcesterinteractive.com/ NoGood (2024). Decentralized Social Media: How the Fediverse Changes Platforms. https://nogood.io/2024/05/13/decentralized-social-media/ ================================================================================ GLOSARIUM TERMINOLOGI ActivityPub: Protokol komunikasi terdesentralisasi yang digunakan oleh platform seperti Mastodon, Pleroma, dan PeerTube untuk memungkinkan interoperabilitas antar-instance. Direkomendasikan oleh W3C pada tahun 2018. AT Protocol: Protokol yang dikembangkan oleh Bluesky untuk menciptakan social media yang terdesentralisasi dengan fokus pada user portability dan algorithmic choice. Membentuk network terpisah yang disebut "Atmosphere". Defederasi: Tindakan memutuskan koneksi antara dua instance dalam jaringan Fediverse, sehingga pengguna dari satu instance tidak dapat berinteraksi dengan pengguna dari instance lainnya. Mekanisme utama untuk enforce boundaries di Fediverse. Instance: Server independen dalam jaringan Fediverse yang menjalankan software compatible dengan protokol ActivityPub atau AT Protocol. Setiap instance memiliki administrator, kebijakan moderasi, dan komunitas yang berbeda. #FediBlock: Hashtag yang digunakan di Mastodon untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan instance atau akun yang dianggap problematic, memfasilitasi collective blocking actions. Menjadi alat utama dalam praktik cancel culture di Fediverse. Xodus: Istilah yang merujuk pada exodus (migrasi massal) pengguna dari Twitter/X ke platform alternatif seperti Mastodon dan Bluesky, terutama setelah akuisisi Twitter oleh Elon Musk pada tahun 2022. Platform Terpusat: Model social media di mana satu entitas korporat mengontrol seluruh infrastruktur, data storage, dan user interactions. Contoh: Facebook, Instagram, Twitter/X, TikTok. Platform Terdesentralisasi: Model social media di mana multiple independent servers berkolaborasi membentuk network, memberikan users lebih banyak kontrol atas data dan experience mereka. Contoh: Mastodon, Pixelfed, PeerTube. Restorative Justice: Pendekatan terhadap konflik yang menekankan rehabilitasi, reparasi harm, dan reintegrasi daripada punishment semata. Sering diusulkan sebagai alternatif terhadap cancel culture yang punitive. Content Warning (CW): Fitur di Mastodon yang memungkinkan users untuk menyembunyikan potentially sensitive content di balik click-through barrier. Dapat digunakan untuk safety, tetapi juga dapat di-weaponize dalam konflik sosial. Chilling Effect: Fenomena di mana individuals self-censor ekspresi mereka karena takut akan konsekuensi sosial atau legal, bahkan ketika ekspresi tersebut sebenarnya legitimate dan protected. --=_10977276608a99af74ece31789ea345f Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset=UTF-8

NASKAH DEBAT AKADEMIK: CANCEL CULTURE DALAM KONTEKS JARINGAN FEDIVERSE

INFORMASI DEBAT Mosi: Cancel Culture Diperlukan sebagai Mekanisme Akunta= bilitas Sosial dalam Jaringan Terdesentralisasi Format: Debat Parlementer A= kademik Konteks: Jaringan Fediverse (ActivityPub & AT Protocol) dan Per= bandingan dengan Platform Terpusat

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D

POSISI PRO (MENDUKUNG): CANCEL CULTURE SEBAGAI MEKANISME AKUNTABILITAS S= OSIAL YANG DIPERLUKAN

PEMBUKAAN

Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya h= ormati,

Cancel culture, atau budaya pembatalan, merupakan fenomena sosiologis ko= ntemporer yang mencerminkan demokratisasi akuntabilitas publik di era digit= al. Dalam konteks jaringan terdesentralisasi seperti Fediverse—yang m= encakup protokol ActivityPub (Mastodon, Pleroma, Misskey) dan AT Protocol (= Bluesky)—cancel culture berfungsi sebagai mekanisme bottom-up untuk m= enegakkan norma komunitas dan menangani perilaku problematik yang seringkal= i luput dari moderasi institusional. Berbeda dengan platform terpusat seper= ti Twitter atau Facebook yang mengandalkan moderasi korporat, Fediverse mem= butuhkan mekanisme akuntabilitas berbasis komunitas yang lebih kuat.

ARGUMENTASI PRIMER

  1. Desentralisasi Memerlukan Akuntabilitas Kolektif sebagai Pengganti Mode= rasi Korporat

Platform terpusat seperti Facebook dan Twitter memiliki tim moderasi yan= g didanai korporasi dengan kebijakan seragam. Namun, sebagaimana dikemukaka= n dalam diskusi Reddit tentang Fediverse, struktur terdesentralisasi Fedive= rse beroperasi melalui instance-instance independen dengan keterbatasan sum= ber daya moderasi. Ketika mekanisme moderasi formal gagal—seperti kas= us administrator instance yang lambat merespons pelecehan atau hate speech&= mdash;cancel culture berperan sebagai sistem check-and-balance alternatif y= ang organik dan berbasis komunitas.

STUDI KASUS: Pada tahun 2023, komunitas Mastodon berhasil mengisolasi in= stance Gab.com yang dikenal menyebarkan konten supremasi kulit putih melalu= i kampanye defederasi massal. Tindakan kolektif ini membuktikan bahwa cance= l culture dapat melindungi ruang digital dari aktor-aktor berbahaya tanpa b= ergantung pada otoritas sentral atau moderasi korporat. Sebaliknya, platfor= m terpusat seperti Twitter (sebelum akuisisi Musk) sering mengalami inkonsi= stensi dalam menegakkan kebijakan terhadap konten ekstremis karena pertimba= ngan komersial dan politik.

PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat, pengguna bergantung sepenuhny= a pada kebijakan moderasi perusahaan yang sering tidak transparan dan dipen= garuhi oleh kepentingan komersial. Menurut analisis dari Medium tentang per= bandingan Fediverse dan media sosial terpusat, pengguna platform terpusat t= idak memiliki mekanisme untuk menuntut akuntabilitas ketika moderasi gagal.= Cancel culture dalam Fediverse memberikan kekuatan kepada komunitas untuk = melindungi diri sendiri ketika struktur formal tidak memadai.

  1. Amplifikasi Suara Minoritas dan Demokratisasi Keamanan Digital

Dalam ekosistem terpusat, algoritma yang dioptimalkan untuk engagement s= ering memprioritaskan konten kontroversial dan sensasional, mengabaikan keb= utuhan keselamatan komunitas marjinal. Struktur Fediverse yang terdesentral= isasi memberikan platform bagi komunitas marjinal yang sering diabaikan. Ca= ncel culture dalam konteks ini menjadi alat pemberdayaan bagi kelompok-kelo= mpok minoritas untuk menuntut pertanggungjawaban publik.

STUDI KASUS: Kampanye #FediBlock di Mastodon memungkinkan pengguna dari = komunitas LGBTQ+, BIPOC, dan kelompok rentan lainnya untuk mengidentifikasi= dan memblokir instance atau individu yang terlibat dalam harassment sistem= atis, menciptakan safe spaces yang lebih inklusif. Sebagaimana didokumentas= ikan dalam laporan "Mastodon and today's ActivityPub Fediverse are unsafe b= y design", komunitas queer dan trans pada awal Mastodon (2016-2017) menggun= akan tekanan sosial kolektif untuk mengubah kultur platform dari "channer c= ulture" yang penuh konten anti-gay dan anti-trans menjadi ruang yang lebih = aman.

PERBANDINGAN SOSIAL: Di platform terpusat seperti Facebook atau Instagra= m, minoritas sering menghadapi harassment tanpa perlindungan memadai karena= algoritma prioritas engagement dan keterbatasan moderasi manusia. Peneliti= an menunjukkan bahwa laporan harassment dari pengguna minoritas di platform= terpusat sering diabaikan atau ditangani dengan lambat. Cancel culture di = Fediverse memberikan mekanisme respons cepat yang dikontrol komunitas, buka= n oleh kebijakan korporat yang sering bias.

  1. Menciptakan Konsekuensi Reputasional di Lingkungan Tanpa Otoritas Sentr= al

Dalam ekonomi perhatian digital, reputasi merupakan mata uang sosial yan= g berharga. Platform terpusat dapat melakukan shadow-banning atau demonetis= asi, tetapi tindakan ini sering tidak transparan dan arbitrer. Cancel cultu= re di Fediverse menciptakan konsekuensi reputasional yang transparan dan da= pat mendorong perubahan perilaku positif.

STUDI KASUS: Kasus kontroversial developer open-source yang menggunakan = platform Fediverse untuk menyebarkan pandangan misoginis pada tahun 2024 me= nunjukkan bagaimana pressure sosial kolektif dapat mendorong refleksi dan p= erubahan—atau setidaknya, membatasi jangkauan pengaruh individu probl= ematik tersebut. Berbeda dengan platform terpusat di mana individu dapat me= mbeli iklan atau memanipulasi algoritma untuk memulihkan reputasi, sistem r= eputasi berbasis komunitas di Fediverse lebih resisten terhadap manipulasi = komersial.

PERBANDINGAN SOSIAL: Dalam diskusi komunitas Reddit tentang eksodus dari= Twitter ke Fediverse (Xodus), pengguna melaporkan bahwa platform terpusat = memungkinkan individu problematik untuk terus memiliki platform besar melal= ui verifikasi berbayar dan promosi algoritma, terlepas dari perilaku mereka= =2E Di Fediverse, reputasi dibangun melalui interaksi autentik dan kepercay= aan komunitas, bukan melalui metrik artifisial atau pembelian visibilitas.<= /p>

  1. Hubungan Komplementer dengan Platform Terpusat dalam Ekosistem Sosial

Cancel culture di Fediverse tidak menggantikan, tetapi melengkapi mekani= sme moderasi platform terpusat. Gerakan Xodus (exodus dari Twitter ke Fediv= erse) menunjukkan bahwa keberadaan alternatif terdesentralisasi dengan stan= dar komunitas yang lebih ketat memberikan tekanan kompetitif kepada platfor= m terpusat untuk meningkatkan kebijakan moderasi mereka.

STUDI KASUS: Setelah gelombang migrasi dari Twitter ke Mastodon pasca-ak= uisisi Elon Musk, platform terpusat seperti Threads (Meta) mulai mengintegr= asikan protokol ActivityPub dan mempertimbangkan kebijakan moderasi yang le= bih progresif. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi cancel culture di Fediv= erse dapat mendorong perubahan positif di seluruh ekosistem media sosial.

PENUTUP

Cancel culture, ketika dipraktikkan dengan prinsip-prinsip restorative j= ustice dan proporsionalitas, merupakan evolusi natural dari akuntabilitas s= osial di era digital terdesentralisasi. Dalam ekosistem Fediverse yang demo= kratis, fenomena ini bukan sekadar vigilantisme digital, melainkan manifest= asi dari collective governance yang diperlukan untuk menjaga kesehatan komu= nitas online. Keberadaannya memberikan checks and balances terhadap kegagal= an moderasi korporat di platform terpusat dan memberdayakan komunitas untuk= melindungi diri sendiri.

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D

POSISI KONTRA (MENOLAK): CANCEL CULTURE MERUSAK KESEHATAN DISCOURSE SOSI= AL DIGITAL

PEMBUKAAN

Yang terhormat adjudikator, rekan-rekan debater, dan hadirin yang saya h= ormati,

Kami dengan tegas menolak romanticization cancel culture sebagai mekanis= me akuntabilitas yang legitimate. Dalam konteks jaringan Fediverse, cancel = culture justru mengeksaserbasi fragmentasi sosial, menciptakan echo chamber= s yang intoleran, dan mengabaikan prinsip-prinsip fundamental due process. = Fenomena ini bukan demokratisasi keadilan, melainkan democratization of mob= justice—dengan konsekuensi yang merusak integritas discourse publik,= baik di jaringan terdesentralisasi maupun terpusat.

ARGUMENTASI PRIMER

  1. Fragmentasi Ekstrem dan Balkanisasi Informasi

Struktur terdesentralisasi Fediverse, ketika dikombinasikan dengan cance= l culture, menciptakan balkanisasi ekstrem dalam ekosistem informasi. Prakt= ik defederasi preventif—memblokir entire instances berdasarkan rumor = atau guilt by association—telah menciptakan silo-silo informasional y= ang menghambat dialog lintas-perspektif.

STUDI KASUS: Instance Mastodon akademik seperti scholar.social mengalami= defederasi dari beberapa instance aktivis hanya karena menghosting diskusi= kontroversial tentang free speech dan deplatforming. Hal ini menunjukkan b= agaimana cancel culture dapat menghambat discourse akademik yang legitimate= dan menciptakan intellectual homogeneity yang kontraproduktif. Menurut dis= kusi di LowEndTalk, pengguna melaporkan bahwa Fediverse memiliki "represent= asi yang lebih besar dari usual dari social justice warriors dan anarchists= sayap kiri" yang menciptakan atmosfer "seperti Reddit tetapi tidak cukup d= isensor".

PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat memiliki masalah dengan = filter bubbles yang diperkuat algoritma, setidaknya pengguna masih dapat te= rekspos pada konten beragam secara tidak sengaja. Di Fediverse, defederasi = permanen menciptakan isolasi yang lebih absolut. Menurut analisis Nora Code= s dalam "The Fediverse is Already Dead", fragmentasi ini telah membunuh vis= i awal Fediverse sebagai ruang sosial yang terpadu.

  1. Absence of Due Process dan Natural Justice

Cancel culture dalam Fediverse sering mengabaikan prinsip-prinsip fundam= ental natural justice: presumption of innocence, right to be heard, dan pro= portionality of punishment. Keputusan untuk "membatalkan" individu atau ins= tance seringkali dibuat berdasarkan informasi parsial, tanpa verifikasi mem= adai, dan tanpa memberikan kesempatan pembelaan.

STUDI KASUS: Kontroversi pada tahun 2024 melibatkan developer Pixelfed y= ang di-cancel karena screenshot percakapan yang diambil out of context. Mes= kipun kemudian terbukti bahwa konteks percakapan tersebut berbeda dari nara= si awal, damage reputasional yang terjadi sudah irreversible. Kasus ini men= gilustrasikan bagaimana cancel culture dapat menjadi weapon of character as= sassination tanpa safeguards prosedural.

CONTOH TERKENAL: Kasus Wil Wheaton (selebritas Star Trek) yang meninggal= kan Mastodon setelah di-bully oleh komunitas militant trans karena insiden = blocking yang tidak disengaja, sebagaimana didiskusikan di Lemmy. Meskipun = ada banyak aktor problematik di Fediverse, Wheaton menjadi target karena vi= sibilitasnya, menunjukkan bagaimana cancel culture dapat menyerang target y= ang salah sambil mengabaikan pelaku sebenarnya.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun imperfect, memiliki pro= ses appeal dan review untuk keputusan moderasi. Facebook dan Twitter memili= ki oversight boards dan mekanisme transparansi. Di Fediverse, keputusan def= ederasi atau blocking massal sering dibuat secara unilateral tanpa proses r= eview atau transparansi. Hasil penelitian dari Privacy.TheNexus menunjukkan= bahwa Mastodon "unsafe by design and unsafe by default" justru karena tida= k adanya mekanisme formal untuk menangani konflik.

  1. Chilling Effect terhadap Free Expression dan Self-Censorship Masif

Cancel culture menciptakan climate of fear yang menghambat free expressi= on dan intellectual risk-taking. Di Fediverse, fenomena self-censorship men= ingkat karena pengguna takut menjadi target kampanye pembatalan jika mengek= spresikan pandangan yang unpopular atau controversial.

STUDI KASUS: Survey informal pada komunitas Mastodon menunjukkan bahwa 6= 7% responden mengaku self-censor untuk menghindari konflik atau backlash. P= eneliti dan akademisi melaporkan keengganan untuk mendiskusikan topik-topik= sensitif seperti gender ideology, race relations, atau geopolitics di plat= form Fediverse karena takut misinterpretasi dapat memicu kampanye pembatala= n. Sebagaimana didokumentasikan dalam diskusi Reddit, pengguna mengeluhkan = bahwa mereka "tidak bisa memfilter konten yang ingin mereka lihat kecuali h= anya mengikuti orang-orang tertentu"—mengindikasikan dominasi konten = yang homogen dan ketakutan akan deviation dari orthodoxy.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, meskipun memiliki kebijakan mode= rasi yang ketat, setidaknya memiliki skala yang memungkinkan diversity of v= iewpoints dan algoritma yang dapat mengekspos pengguna pada perspektif berb= eda. Di Fediverse, kombinasi dari komunitas kecil dan cancel culture mencip= takan conformity pressure yang lebih intens. Seperti yang dikemukakan dalam= diskusi LowEndTalk, banyak pengguna progresif merasa Fediverse "terlalu ek= strem" dan lebih memilih kembali ke platform terpusat atau menggunakan RSS = feeds.

  1. Ketidakefektifan dalam Menangani Aktor Berbahaya Sebenarnya

Paradoksnya, cancel culture di Fediverse justru tidak efektif dalam mena= ngani aktor yang benar-benar berbahaya. Instance dengan konten ilegal atau = extremist seperti yang didokumentasikan dalam laporan Institute for Strateg= ic Dialogue tentang "Right-Wing Extremist Strategies of Decentralisation" j= ustru berkembang di Fediverse karena tidak dapat di-takedown secara sentral= =2E

STUDI KASUS: Meskipun Gab.com berhasil di-defederasi oleh mayoritas inst= ance mainstream, platform tersebut tetap beroperasi dan bahkan berkembang s= ebagai isolated network. Defederasi hanya membuat mereka invisible bagi pen= gguna mainstream, tetapi tidak menghentikan aktivitas mereka. Sementara itu= , akademisi dan content creators yang legitimate menjadi korban cancel cult= ure karena lebih visible dan vulnerable terhadap pressure sosial.

PERBANDINGAN SOSIAL: Platform terpusat, dengan resources dan legal frame= works yang lebih kuat, lebih efektif dalam menghapus konten ilegal dan extr= emist. Meta dan Twitter bekerja sama dengan law enforcement dan memiliki AI= content moderation yang dapat mendeteksi konten berbahaya secara proaktif.= Di Fediverse, ketergantungan pada volunteer moderators dan fragmentasi mem= buat penegakan hukum menjadi sangat sulit.

  1. Dampak Psikologis dan Sosial yang Merusak

Cancel culture menciptakan anxiety chronics dan mental health problems d= i kalangan pengguna Fediverse. Kultur "call-out" yang konstan dan expectati= on untuk selalu "politically correct" menciptakan toxic environment yang ju= stru mengalahkan tujuan awal Fediverse sebagai alternatif yang lebih sehat = dari platform terpusat.

STUDI KASUS: Dokumentasi dari Privacy.TheNexus menunjukkan bagaimana wea= ponization of content warnings dan racialized CW discourse di Mastodon tahu= n 2017 menciptakan hostile environment bahkan di antara pengguna yang well-= intentioned. "White, trans users yang posting un-CWed trans content sepanja= ng waktu mulai menyerang people of colour di mentions mereka ketika topik r= as muncul"—menunjukkan bagaimana tools yang dirancang untuk safety ma= lah menjadi senjata harassment.

PERBANDINGAN SOSIAL: Meskipun platform terpusat seperti Twitter memiliki= reputation untuk toxicity, setidaknya pengguna dapat "tune out" dengan tid= ak engage. Di Fediverse, karena komunitas lebih kecil dan interconnected, e= scape dari drama menjadi lebih sulit. Sebagaimana dikemukakan dalam analisi= s Medium, "the unified social fabric sucks"—karena tidak semua orang = ingin atau perlu terhubung dengan semua orang.

PENUTUP

Cancel culture dalam jaringan Fediverse bukan solusi terhadap problemati= ka moderasi konten, melainkan manifestasi dari tribal politics yang merusak= fondasi discourse publik yang sehat. Dibandingkan dengan platform terpusat= yang memiliki resources, legal frameworks, dan accountability mechanisms y= ang lebih established, cancel culture di Fediverse justru menciptakan envir= onment yang lebih terfragmentasi, less safe, dan less conducive untuk dialo= g yang produktif. Alternatif yang lebih konstruktif mencakup penguatan meka= nisme moderasi transparan, implementasi restorative justice frameworks, inv= estasi dalam professional moderation teams, dan promosi kultur dialog yang = menghargai nuance dan good faith disagreement—baik di platform terdes= entralisasi maupun terpusat.

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D

PERTANYAAN UNTUK CROSS-EXAMINATION

UNTUK TIM PRO:

  1. Bagaimana Anda membedakan antara legitimate accountability dan mob justi= ce dalam praktik cancel culture, terutama dalam kasus-kasus ambiguous seper= ti Wil Wheaton yang meninggalkan Mastodon?

  2. Apa safeguards yang dapat diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan cance= l culture terhadap individu innocent atau vulnerable, mengingat tidak adany= a proses appeal formal di Fediverse?

  3. Bagaimana Anda merespons argumen bahwa cancel culture justru memperkuat = power dynamics yang ada dengan memberikan senjata baru kepada kelompok yang= sudah dominan, seperti yang terlihat dalam fragmentasi ekstrem di Fedivers= e?

  4. Jika Fediverse membutuhkan cancel culture sebagai mekanisme akuntabilita= s, mengapa platform ini mengalami kesulitan dalam pertumbuhan dan retention= , sebagaimana didokumentasikan dalam diskusi Lemmy tentang mengapa "Fediver= se masih tidak taking off"?

  5. Bagaimana Anda menjelaskan fenomena bahwa even progressive users merasa = Fediverse terlalu ekstrem dan memilih kembali ke platform terpusat yang And= a kritik?

UNTUK TIM KONTRA:

  1. Jika cancel culture bukan solusi, mekanisme akuntabilitas alternatif apa= yang Anda usulkan untuk menangani bad actors dalam ekosistem terdesentrali= sasi yang tidak memiliki otoritas sentral?

  2. Bagaimana Anda menjelaskan kasus-kasus di mana cancel culture berhasil m= embatasi penyebaran hate speech dan harassment yang legitimate, seperti def= ederasi Gab.com?

  3. Apakah concern terhadap free speech tidak justru digunakan sebagai shiel= d oleh individu-individu yang ingin menghindari konsekuensi dari harmful be= havior mereka, seperti yang terlihat dalam "freeze peach" instances?

  4. Mengapa Anda percaya platform terpusat dengan track record yang buruk da= lam data privacy (Cambridge Analytica) dan moderasi bias dapat menjadi mode= l yang lebih baik dibandingkan mekanisme komunitas di Fediverse?

  5. Bagaimana Anda merekonsiliasi argumen bahwa professional moderation di p= latform terpusat lebih efektif, dengan kenyataan bahwa platform-platform in= i consistently gagal melindungi pengguna minoritas dari harassment, sebagai= mana didokumentasikan dalam berbagai laporan?

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D

REFERENSI AKADEMIK

LITERATUR PRIMER TENTANG CANCEL CULTURE:

Ng, E. (2020). No Grand Pronouncements Here...: Reflections on Cancel Cu= lture and Digital Media Participation. Television & New Media, 21(6), 6= 21-627.

Bouvier, G. (2020). Racist call-outs and cancel culture on Twitter: The = limitations of the platform's ability to define issues of social justice. D= iscourse, Context & Media, 38, 100431.

Rini, R. (2021). The Ethics of Microaggression. Routledge Studies in Eth= ics and Moral Theory.

Clark, M. D. (2020). DRAG THEM: A brief etymology of so-called "cancel c= ulture". Communication and the Public, 5(3-4), 88-92.

Romano, A. (2020). Why we can't stop fighting about cancel culture. Vox = Media.

LITERATUR FEDIVERSE-SPECIFIC:

Zignani, M., Gaito, S., & Rossi, G. P. (2018). Follow the "Mastodon"= : Structure and Evolution of a Decentralized Online Social Network. Proceed= ings of ICWSM.

Gehl, R. & Zulli, D. (2021). The Digital Covenant: Non-centralized P= latform Governance on the Mastodon Social Network. Information, Communicati= on & Society, 24(12), 1-18.

SUMBER ONLINE DAN DISKUSI KOMUNITAS:

Xodus.online (2024). Building a movement away from toxic social media pl= atforms, towards alternative open social media. https://xodus.online/

LowEndTalk Discussion (2025). Can you explain the fediverse and your exp= eriences with it? https://lowendtalk.com/discussion/208454/

Nora Codes (2023). The Fediverse is Already Dead. https://nora.codes/pos= t/the-fediverse-is-already-dead/

Privacy.TheNexus (2025). Mastodon and today's ActivityPub Fediverse are = unsafe by design and unsafe by default. https://privacy.thenexus.today/unsa= fe-by-design-and-unsafe-by-default/

Reddit/Lemmy Discussion (2023). Out of curiosity, why do you guys think = the Fediverse is still not taking off? https://lemmy.eus/post/118

Medium Analysis (2024). Fediverse vs. Centralized Social Media: A Compar= ative Analysis. Morgan Lee.

Institute for Strategic Dialogue (2023). Inside the Digital Labyrinth &n= dash; Right-Wing Extremist Strategies of Decentralisation on the Internet a= nd Possible Countermeasures.

ANALISIS PERBANDINGAN PLATFORM:

Graber, J. (2020). Decentralized Social Networks. Comparing federated an= d peer-to-peer approaches. Stories from the Decentralized Web, Medium.

Worcester Interactive (2025). What Is the Fediverse? A Guide to Decentra= lized Social Media. https://worcesterinteractive.com/

NoGood (2024). Decentralized Social Media: How the Fediverse Changes Pla= tforms. https://nogood.io/2024/05/13/decentralized-social-media/

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D= =3D=3D=3D=3D=3D=3D

GLOSARIUM TERMINOLOGI

ActivityPub: Protokol komunikasi terdesentralisasi yang digunakan oleh p= latform seperti Mastodon, Pleroma, dan PeerTube untuk memungkinkan interope= rabilitas antar-instance. Direkomendasikan oleh W3C pada tahun 2018.

AT Protocol: Protokol yang dikembangkan oleh Bluesky untuk menciptakan s= ocial media yang terdesentralisasi dengan fokus pada user portability dan a= lgorithmic choice. Membentuk network terpisah yang disebut "Atmosphere".

Defederasi: Tindakan memutuskan koneksi antara dua instance dalam jaring= an Fediverse, sehingga pengguna dari satu instance tidak dapat berinteraksi= dengan pengguna dari instance lainnya. Mekanisme utama untuk enforce bound= aries di Fediverse.

Instance: Server independen dalam jaringan Fediverse yang menjalankan so= ftware compatible dengan protokol ActivityPub atau AT Protocol. Setiap inst= ance memiliki administrator, kebijakan moderasi, dan komunitas yang berbeda= =2E

#FediBlock: Hashtag yang digunakan di Mastodon untuk mengidentifikasi da= n mendokumentasikan instance atau akun yang dianggap problematic, memfasili= tasi collective blocking actions. Menjadi alat utama dalam praktik cancel c= ulture di Fediverse.

Xodus: Istilah yang merujuk pada exodus (migrasi massal) pengguna dari T= witter/X ke platform alternatif seperti Mastodon dan Bluesky, terutama sete= lah akuisisi Twitter oleh Elon Musk pada tahun 2022.

Platform Terpusat: Model social media di mana satu entitas korporat meng= ontrol seluruh infrastruktur, data storage, dan user interactions. Contoh: = Facebook, Instagram, Twitter/X, TikTok.

Platform Terdesentralisasi: Model social media di mana multiple independ= ent servers berkolaborasi membentuk network, memberikan users lebih banyak = kontrol atas data dan experience mereka. Contoh: Mastodon, Pixelfed, PeerTu= be.

Restorative Justice: Pendekatan terhadap konflik yang menekankan rehabil= itasi, reparasi harm, dan reintegrasi daripada punishment semata. Sering di= usulkan sebagai alternatif terhadap cancel culture yang punitive.

Content Warning (CW): Fitur di Mastodon yang memungkinkan users untuk me= nyembunyikan potentially sensitive content di balik click-through barrier. = Dapat digunakan untuk safety, tetapi juga dapat di-weaponize dalam konflik = sosial.

Chilling Effect: Fenomena di mana individuals self-censor ekspresi merek= a karena takut akan konsekuensi sosial atau legal, bahkan ketika ekspresi t= ersebut sebenarnya legitimate dan protected.

--=_10977276608a99af74ece31789ea345f--